Prof. Sarwanto Kupas Strategi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MAN 2 Kota Cirebon
Sesi berikutnya dalam Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) MAN 2 Kota Cirebon menghadirkan Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNS, Prof. Dr. Sarwanto, S.Pd., M.Si. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (18/7/2026) ini berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi, aktif berdiskusi, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
Dalam paparannya, ia mengajak para guru membangun growth mindset sebagai fondasi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang mampu menjawab tantangan pendidikan di era saat ini.
Menurut Prof. Sarwanto, Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui implementasi nilai-nilai Panca Cinta. Ia menegaskan bahwa proses belajar harus melampaui ruang kelas (beyond the classroom), sehingga pengalaman belajar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kurikulum Berbasis Cinta merupakan jawaban atas tantangan zaman. Pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi harus mampu membentuk karakter dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna melalui nilai-nilai Panca Cinta," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa peran guru tidak lagi sebatas sebagai penyampai materi, melainkan menjadi fasilitator pembelajaran, teladan (role model), sekaligus menghadirkan madrasah sebagai rumah yang penuh kasih sayang bagi peserta didik.
Selanjutnya, Prof. Sarwanto memaparkan strategi implementasi kegiatan kokurikuler di madrasah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Menurutnya, kegiatan kokurikuler menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan karakter, keterampilan, serta mengaktualisasikan pengetahuan yang diperoleh di kelas.
Sebagai penutup, ia memberikan pembekalan mengenai penyusunan modul dan asesmen kokurikuler. Guru didorong untuk menyusun perangkat pembelajaran yang terencana, kontekstual, dan mampu mengukur perkembangan kompetensi maupun karakter peserta didik secara menyeluruh.
"Keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga dari bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya," pungkasnya.